Beberapa
minggu yang lalu aku pergi ke Jogja untuk berlibur. Pergi ke Jogja ini sudah
direncanakan dari jauh-jauh hari. Aku membeli tiket kereta di Traveloka dan
sempat terkejut melihat harga tiketnya hanya Rp75,000 diawal bulan agustus.
Tanpa ragu, aku order dan saat itu juga aku transfer jumlah yang sudah
diberikan. Rasanya senang sekali tiket kereta ke Jogja hanya Rp75,000 :) Beberapa hari kemudian, aku menghubungi sewa motor
di Jogja. Aku mendapatkan rekomendasi dari temannya temanku, kalau mau sewa
motor di Jogja bisa buka link ini: http://sewamotordijogja.com/. Harga sewanya cukup
murah, yaitu Rp60,000/24 jam untuk motor Mio. Tapi saat aku ingin menyewa motor
Mio, motornya lagi kosong. Si penyewa menyarankan untuk sewa Beat dengan harga
motor Mio. Persyaratannya juga tidak dipersulit. Hanya dengan memberi jaminan
berupa 3 kartu identitas asli bukan berupa fotocopy. Namun, saat aku menyewa
motor tersebut, aku hanya memberikan KTP asli dan tiket pulang. Sangat
dipermudah, kan? Selain itu, ada fasilitas lainnya. Diantaranya, antar gratis
kemana saja, helm 2 dan jas hujan 1 set (bukan berbentuk kelelawar). Aku
menyewa motor untuk 4 hari 3 malam dengan total Rp180,000.
Saat hari H tanggal 1 agustus 2017, aku berangkat
pukul 08:30 dari rumah menuju stasiun Bekasi. Untuk melanjutkan ke stasiun
Pasar Senen, aku harus transit di stasiun Jatinegara. Saat di stasiun
Jatinegara, kereta berangkat sekitar 20 menit kemudian. Memang sangat
membosankan menunggu keretanya jalan. Sesampainya di stasiun Pasar Senen,
satpam nya menginformasikan bahwa kereta Bengawan sesaat lagi akan sampai di
stasiun Pasar Senen. Wah, senangnya hatiku tidak perlu menunggu lama lagi.
Sekitar 5 menit kemudian, kereta Bengawan tiba. Aku duduk di bangku 4C Ekonomi
1. Kereta berangkat pukul 11:20. Perasaan ini makin tidak sabar untuk tiba di
Kota Istimewa. Perjalanan ke Jogja menggunakan kereta memakan waktu kurang
lebih 10 jam. Selama di kereta, aku melakukan aktifitas yang biasa dilakukan
sehari-hari, yaitu menyulam. Namun, beberapa menit kemudian kepala-ku terasa
pusing. Mungkin karena menyulam di kereta, karena kereta kan bergerak gitu. Dan
akhirnya aku tidak melanjutkan sulamannya. Saat menjelang maghrib, aku sempet
keluar dari bangku untuk melihat pemandangan sekitar dari kereta. Masya
Allah... senangnya hatiku melihat hamparan sawah dan sungai yang bikin mata ini
segar :) Tidak lupa aku mengeluarkan kamera analog-ku untuk mengambil gambar
sekitar. Tidak peduli berapa frame yang sudah aku ambil, yang penting hati ini
bahagia telah mengabadikan moment yang jarang ada di kota. Maklum aku nggak
punya kampung alias asli Jakarta. Jadinya ya nggak bisa ngerasain mudik
sekalian berlibur kayak kalian, hehe.
Tiba di stasiun Lempuyangan pukul 20:48. Hati ini
senangnya bukan main, loh! Oh iya, tibanya di stasiun Lempuyangan karena kereta
ekonomi tidak berhenti di stasiun Tugu Jogja. Stasiun Tugu Jogja hanya untuk
kereta kelas bisnis dan eksekutif. Saat sudah sampai di stasiun Lempuyangan,
aku tidak berniat untuk mengelilingi stasiun. Shh... karena biasanya aku suka sighing kalau sudah di tempat baru.
Namun, karena hati ini semakin nggak sabar untuk mengelilingi Kota Istimewa,
aku langsung keluar dari stasiun dan pastinya menghubungi tempat aku menyewa
motor. Karena lapar, aku makan di angkringan depan stasiun sambil menunggu
motor tiba. Harga gorengan di angkringan tersebut sama seperti di Jakarta,
yaitu Rp1,000. Mungkin karena jualnya di dekat stasiun, jadi harganya dibikin
mahal. 20 menit kemudian, motornya tiba. Seperti yang sudah aku jelaskan
diawal, aku hanya memberi KTP dan tiket pulang ke si penyewa motor. Dengan
modal google maps, aku pergi ke alun-alun Kidul. Selama perjalanan, Jogja sepi
banget. Padahal saat itu masih jam 9 malam. Beda sama di Jakarta, jam 9 macet
di mana-mana karena jam pulang kantor. Nah, sesampainya aku di alun-alun Kidul,
aku mengitari alun-alun dengan motor. Di sana ada wahana mobil yang warna-warni
dari lampu. Karena aku malas untuk parkir, jadinya aku tidak sempat mencoba
wahana tersebut. Tapi aku tidak lupa untuk mengabadikan momen tersebut
menggunakan kamera analog-ku. Selesai dari alun-alun Kidul, aku pergi ke Jl.
Malioboro. Wah, ternyata Jl. Malioboro ramai sekali. Karena ramai, aku langsung
mengalihkan perjalananku ke Tugu Jogja. Ternyata di Tugu Jogja juga ramai,
padahal aku mencari tempat yang sepi. Ya sudah, lagi-lagi aku mengalihkan
perjalananku. Kali ini ke Sindu Kesuma Edupark. Setengah perjalanan menuju SKE,
baterai handphone-ku low. Aku sempat panik, karena powerbank yang aku miliki dayanya tidak
tinggi. Sayang sekali aku tidak melanjutkan perjalanan-ku ke SKE karena baterai
handphone tidak mendukung. Tujuan
terakhir pada malam itu adalah Rumah Kecil Jatirejo. Rumah Kecil Jatirejo
adalah tempat temanku, Milsya menginap. Syukur alhamdulillah baterai handphone-ku masih sisa 1% saat tiba di
Jatirejo. Padahal biasanya 5% saja handphone-ku
sudah mati total. Tiba di Rumah Kecil Jatirejo, kita menyiapkan rencana untuk
esok hari.
Keesokan harinya pukul 05:30 aku bangun dan langsung
melaksanakan sholat subuh. Setelah sholat subuh, aku membangunkan Milsya. Saat
Milsya sholat subuh, aku mandi untuk menghemat waktu. Kita siap pukul 07:00 dan
berangkat pukul 08:20. Tujuan pertama kita adalah Gumuk Pasir Parangkusumo. Dari Sleman menuju Gumuk Pasir memakan
waktu 1 jam, kata mbah Google. Di perjalanan kita sempat mampir ke Indomaret
untuk membeli perbekalan kita sampai esok hari. Belanjaan kita adalah roti
sobek, pop mie, 1 liter air mineral sebanyak 2 botol dan camilan lainnya. Kita
sangat menikmati perjalanan di Jogja. Karena pagi-pagi saja sepi banget,
padahal kalo di Jakarta udah macet dan pengendara lainnya banyak yang bawel
tidak sabaran. Di perjalanan, kita melewati ISI Jogja dan kita terkejut! Hahaha
lebay memang. Tapi senangnya bukan main. Bahkan kita sempat teriak
“ISIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII!”. Bisa lewat ISI Jogja aja
senangnya bukan main, apa lagi jadi mahasiswa nya ya, hehe. Kita juga melewati
jembatan yang sungainya cantik banget. Kalo di Jakarta sih udah bertebaran
sampah haha. Ternyata di sebelah kanan jembatan ada pelangi. It’s been a long time no see a rainbow!
Kita semakin tidak sabar untuk tiba di Gumuk Pasir. Untuk memasuki kawasan
Parangtritis ada biayanya. Biayanya sebesar Rp5,000/orang, tapi aku tidak ingat
persis. Ya kiranya segitu lah.
Gumuk Pasir
Parangkusumo
Sampai di
Gumuk Pasir, kita sempat tidak percaya kalo Gumuk Pasir beneran pasir. Yang aku
tau dari Google, Gumuk Pasir ada pantai nya. Ya sudah aku tanyakan saja pada
tukang parkir. Ternyata pantai nya ada di seberang Gumuk Pasir. Kita memilih
untuk ke wilayah paling ujung di Gumuk Pasir. Wilayah ujung ada taman yang
isinya berupa properti untuk foto-foto. Harga masuk taman itu sebesar
Rp5,000/orang. Wah, ternyata tamannya galau loh. Hihi. Lihat saja foto-foto di
bawah ini.
 |
| Jalanan menuju Gumuk Pasir Parangkusumo |
 |
| Memasuki taman yang galau |
 |
| Nah ini salah satu properti di taman yang galau itu |
 |
| Wah, sayangnya dia tidak kangen :) |
 |
| Properti lainnya yang lumayan juga buat upload di instagram |
 |
| Properti galau lainnya |
 |
| Yang lainnya lagi hahaha |
 |
| Ayunan nya juga bagus buat foto-foto |
 |
| Pemandangan Gumuk Pasir dari taman yang galau tadi |
 |
| Milsya sangat bersemangat untuk foto-foto :)) |
Selesai asyik foto-foto di taman tersebut, kita
pergi ke menara. Karena aku pikir pasti bagus banget liat pemandangannya dari
atas. Menara nya terbuat dari bambu namun kokoh. Sesampai di menara, aku senang
dan tidak kecewa sama sekali. Benar saja dugaanku kalau melihat pemandangan
dari menara pasti cantik banget. Kita bisa melihat pantai Gumuk Pasir dari atas
menara.
 |
| Ini menara nya. Tinggi kan? |
 |
| Pemandangan dari menara yang masih banyak kabut |
Usai dari Gumuk Pasir, kita melanjutkan perjalanan ke
Bukit Pengilon. Menuju Bukit Pengilon memakan waktu selama kurang lebih 3 jam
perjalanan. Cuaca di Gunungkidul sedang tidak mendukung, kadang cerah, kadang
gerimis. Karena takut bensin habis dan tidak menemukan tukang bensin eceran,
kita singgah ke warung yang menjual bensin eceran seharga Rp8,500/liter.
Ternyata dari Gumuk Pasir menuju Bukit Pengilon jauh banget. Handphone kami sempat tidak ada sinyal
dan kami sempat merasa ketakutan tidak bisa pulang. Ya karena hanya Google Maps
yang bisa kita andalkan. Setelah memakan waktu 3 jam perjalanan, akhirnya kita
tiba di Pantai Siun Tepus.
Pantai Siung Tepus
Jadi
sebelum kita mau ke Bukit Pengilon, kita melewati Pantai Siung. Untuk ke Bukit
Pengilon memakan waktu kurang lebih setengah jam dengan jalan kaki. Namanya
bukit, pasti tinggi dan melelahkan. Tapi sayangnya kita nggak naik ke Bukit
Pengilon karena temanku tidak mau. Menurutku, Pantai Siung memiliki pasir yang
kasar. Kita menghabiskan waktu di Pantai Siung dengan foto-foto
 |
| Kalau mau ke Bukit Pengilon, lewat sana |
 |
| Nungguin ombak dateng, tapi kayaknya terlalu pinggir |
 |
| Di pinggir pantai banyak banget batu karang yang besar |
 |
| Cuacanya mendung banget. Nggak beda jauh sama hati ini (?) |
Karena takut kesorean untuk menuju pantai Pok Tunggal,
kita tidak berlama-lama di Pantai Siung. Perjalanan dari Pantai Siung ke Pantai
Pok Tunggal memakan waktu kurang lebih setengah jam perjalanan. Lumayan dekat
bukan? Keadaan handphone kita masih
tidak ada sinyal. Kita hanya bisa bertanya dengan orang sekitar. Nggak berapa
lama kemudian, handphone-ku kembali
ada sinyal. Lumayan lah buat searching Pantai
Pok Tunggal.
Pantai Pok Tunggal
Tiba di
pintu menuju Pok Tunggal, kita diminta untuk bayar seikhlasnya. Perjalanan dari
pintu masuk sampai ke Pok Tunggal lumayan bikin pegel. Karena jalanannya masih
hancur, tapi untungnya nggak tanah merah. Mungkin karena kita nggak sabaran
untuk sampai tujuan, kita Cuma bisa mengeluh “duh, capek banget! Di mana
pantainya?”. Kita sempat bertanya ke seorang nenek yang lewat. Menurut beliau,
pantainya sudah dekat dan kurang lebih 500 meter lagi. Tapi kayaknya 500 meter
nenek tersebut 1 km untuk kita. Ha ha ha! Dan akhirnya jalanan hancur bisa kita
lalui dengan tidak sabaran, kita sampai juga di Pantai Pok Tunggal. Harga sewa
parkir semalaman untuk motor sebesar Rp5,000. Ternyata tukang parkir tersebut
juga menyewakan tenda. Harga sewa untuk semalam hanya Rp60,000 sudah termasuk
matras dan pasang tenda. Lumayan matrasnya buat jemur badan di pantai :) Kita
memilih tempat dekat wc dan mushola. Temanku sibuk tidur saat tendanya sudah
terpasang. Sedangkan aku sibuk lari-larian di pantai, hehe. Senang karena
perjalanannya terbayarkan dengan pemandangan yang jarang di kota. Menjelang
maghrib, kita naik ke atas batu yang besar. Semua terasa tenang sekali. Lanjut
dari batu besar, aku pergi ke pinggir pantai buat basah-basahan dan menikmati
ketenangan. Karena menjelang maghrib, pengunjung mulai sepi. Hanya ada aku,
pantai, dan segala ketenangan yang ada. EAK! Aku senang sekali saat ombak pergi
menghampiriku. Ombaknya terlihat seperti menari bersama-sama. Sayang saat itu
Pok Tunggal lagi mendung. Jadi kita tidak bisa melihat sang mentari terbenam.
Padahal itu yang kita incar, huhu. Sampai maghrib tiba, aku masih di pinggir
pantai untuk menikmati ombak yang menghampiri dan juga semua kedamaian yang ada
di pantai. Rindu jadinya :’)

 |
| Ternyata diriku merusak pemandangan pantai dari atas yha. |
 |
| Menjelang maghrib |
 |
| No sunset :( |
 |
| He he he. |
 |
| Ingin bikin siluet gitu |
 |
| Hanya ada aku, pantai, dan segala ketenangan ^^ |
 |
| Menulis nama sendiri di pasir. Yuhu... |
Malam pun tiba. Udara yang dingin membuat kami
mengharuskan untuk tetap berada di dalam tenda. Selama di dalam tenda, kami
hanya bisa menggigil. Tapi menurutku, dinginnya tidak separah saat ada di
puncak hehe. Saat tengah malam, kita menyempatkan diri untuk keluar tenda. Ya
sekedar menikmati pantai di malam hari. Coba saja cuaca saat itu lagi cerah,
mungkin kita bisa melihat milky way.
Oh iya, hampir lupa, kalian jangan khawatir kalau baterai hape kalian low, karena
kalian bisa ngecharge hape kalian di
warung sekitar. Tapi nggak gratis ya, hehe. Waktu itu aku ngecharge hape dan baterai kamera, totalnya
jadi Rp6,000.
Bersambung...
Comments
Post a Comment